puncak keramat…, ziarah sesat…. Dari keramat gunong tajam, panji-panji sultan, menyeretku ke waktu lampau dari 1700 hingga 1740 masehi kelam terkubur suram, mubaligh islam mendebarkan dzikir-dzikir lafadz berzanji jua tersobek gebyar lelaut berbaur dalam tabuh genderang, menarikku pada pembicaraan keji tentang pembunuhan syekh Abu Bakar, atas persemayaman langit dan bumi. Dari puncak gunung kumenggerung pada kristal-kristal air terjun gurok-beraye dalam senandung pesisir jua mistis saat kujumpai kehidupan kekal. Membelitku pada jalan-jalan menuju abad kepongahan raja-raja, gelar kecangkraningratan, pundi persembahan, serta keganasan jarum emas menghalau nafas.
--------------------------o0o--------------------------
Paman mentri bersaksi…, jua raja zalim mati…. Petaka lampau, mengundang fatwa-fatwa haus darah, kesombongan taklit jua mencengkram kursi singgasana. Menara-menara menyimbolkan kekuasaan absolut, balada kekejaman jua mencatat tinta darah rakyat, menggunungkan serapah dari mulut-mulut jelata. Hembusan- nafas-nafas puritan, menentaskan gema penderitaan tangis juru kiamat. Para abdi meledak, berserikat dalam munajat, memberi kesaksian padaku gagasan kilat penghulu-penghulu melukis kobaran api bara semangat. Merengut kesadaranku akan petuah-petuah adipati, pantun-pantun pengecoh baginda, para dukun merapal mantra, serta peradaban jua berbisa, turut racuni kepongahan pundak penguasa.
--------------------------o0o-------------------------- Titik nadir kuasa…, rutuk alam bencana…. Tinggallah reruntuhan tak bernyawa, di serambi laut cina selatan, gugusan logam tua jua ditelan badak-badak apung, mengepung seantero semenanjung, dari abad keemasan 18 masehi jua berlari, mewariskan jejak-jejak langkah keterpurukan sutradara dalam peran. Memaksaku tercekal ke negri mimpi, seraya dalam gumam alkisah menara-menara pencakar langit, strata kosmos industri, seperti kolonialisme beratus-ratus tahun, menelorkan gelandangan terselubung kuli-kuli langkong, jua membakar bergenggam cita menari liar di beranda mata. --------------------------o0o-------------------------- Cahaya tak batas…, angan tak kertas…. Batu-batu bertuah, semburat awan jingga, bersaksi kepada langit tentang sebuah panorama anak-anak pulau, angin senda-gurau, menyeru-menderu ke segala penjuru negriku; atas kekayaan, tanah, semburat udara, tata senyum jua tergolek rapi dari wajah-wajah rumpun melayu belitong, adalah gambaran asing jua tak bising oleh suara-suara bermuara. Laik tercampakkan, yang tak sorot, jua lorot, juga betot. Kuukir diorama bangsaku lewat kertas-kertas, mebiakkan fragmen-fregmen seni-budaya-agama, keping kepribadian-timur, dari batas ujung dayung berlabuh ke semenanjung. Medali tuturan sabda agung, merayapi api-api transformasi jejari revolusi, menjadi prasasti jua ditancapkan pada langkah, tusukan pisau sengau, dalam gonggongan sinergi dariku untuk semua. --------------------------o0o--------------------------
Pesta jelata…, drajat perkara…. Debam gong beripat, mula bujang-dayang merapat atas tontonan mencak-mencak di gelangggang riuh, berbuih semangat. Beradu nyali, ciut tak sudi, tak butuh semedi, melingkar rotan selengan tangan, iris ari-ari. Dua kampong seberang bersabung dalam rekaat kuda-kuda, depan beranda, dua mempelai meleleh takjub. Gelagat di pura-pura adat, ditindas arogansi mahakarya modern, siklus putus tali pusar generasi, jua traktat-traktat melebur bersama lapukan bebatu. Dan humus jua terhisap mulut ekor dasawarsa. --------------------------o0o-------------------------- Tombak sula…, Dedukun berhikmat serta…. Serta kutukan Agustus, atas bulan jua kerontang. Hikayat ikan buntang tak lapang ladang, dari muara tak bernama, di pulau kepala, di tanduk sumatera. Mukjizat-mukjizat dedukun membasahi sungai, ritual pintas jua sekarat, menuai nafkah rimba-rimba sesepuh adat. Seremonial kami telah berhenti bernafas berat, tragis terbunuh adat, mengkhianati rapal-rapal mantra pekat, kidung ria anak desa jua luput dari tinjauan mata kasat. --------------------------o0o-------------------------- Okh inspirasi mati…, oh tingkah sepi…, oh dualisme hati…. Adab bersilat pantun, melantun santun, bernaung sukma, menyusuri pepintu, udara beku jua menyiarkan sedulang suara-suara. Azimat senja, desis muara, sesumber celoteh tentang dua peremmpuan tua bersirih, seraya berkelakar seputar kerinduan pada seorang pujangga jua pernah hidup di kotanya. Hanyalah spontanitas di galeri peradaban jua pergi dan melenyap atas permintaan pasar buat isi kantong belaka. Apakala musim merenkarnasi debur genderang, penyair beralih kotak, tempat tak pernah disentuhnya sesekali tongkat kecilnya. Bangkitlah dari makammu ki tua - ki tua, kami kefakiran humus cinta pesolek jiwa. Kami sang pesibuk, sang pencari indentitas nenek-moyang sendiri, jua akar kata-kata buat bersyair ria. -------------------------- + BANDUNG 2008 + -------------------------- Sebuah sajak, kuberi judul "sADJAK fALAH PEDJUANg". aku telah membujuk pikiranku mengeluarakan isinya, memaknai setiap jejak kaki-kaki kata yang keluar, serta memperindahnya dengan keindahan; agar khalayak melihat wajah lain.
 Catatan:
Banyak penyair yang saling mempengaruhi, kukira. tapi penyair muda pun banyak berguru secara ilegal kepada yang tua, dengan menela'ah tulisannya. pengaruh terbesar sajak di atas adalah oleh Yapi Tembayong dalam Puisi Mblingnya, kukatakan ia guruku, guru yang ia tak tahu aku muridnya, aku murid ilegal.
APA & SIAPA PUISI?! By: Subrata Kampit
Banyak hal yang menjadi tunggangan penyair dalam mengkotakkan seperti apa puisi yang baik. Ada yang mengatakan; ialah yang mampu mendekatkan diri kepada Tuhan (Joko Pinurbo), ialah yang mempu membuat bulu-kuduk pembacanya merinding (Acep Zamzam Noor), ialah yang memiliki tema dan narasi yang aneh-aneh, dan sabagainya. Jalan tengah dari pendapat berbagai penyair dalam pandangannya terhadap; “Bagaimanakah Puisi yang Baik Itu?”. Menurut ketidakinginborosan benak saya, ialah bahwa keanggunan bahkan keperkasaan sebuah puisi bisa diresapi kemudian dirasakan lalu dinikmati, dibelai, bahkan ditangisi kalau mungkin, dimana ketika penyair mampu menghanyutkan dirinya ke dalam penjiwaan samudera yang seluas-luasnya, serta bisa menggabungkan dan mengkoherensikan berbagai unsur-unsur pengikat puisi itu sendiri, yang kira-kira sebagai berikut;
1.Penguasaan diksi; Penyair memliki kekayaan diksi dan mampu mengalirkan kata-kata pada makna utuh yang hendak dicapai
2.Kaya imaji (pencitraan). Isi Puisi yang mampu membuat pembaca berempati.
3.Adanya keseimbangan antara bahasa kias (figuratif) dan kata-kata konkret, sehingga sajak-sajak yang dibuat tak terlalu gelap untuk ditafsirkan dan tidak terlalu mudah dimaknai. Puisi penyair pemula dan puisi anak-anak ialah yang mudah dimaknai karena minimnya bahasa kias yang digunakan, jenis ini disebut puisi diafan.
4.Rima yang apik, yakni dengan mengetahui penggunaannya. Karena penggunaan rima berkaitan erat dengan ritma atau irama. Rima yang mengacu pada ruh kesedihan berbeda dengan rima yang bernada garang dan bringas.
5.Mampu menciptakan efek-efek artistik pada larik dan bait untuk tujuan membangkitkan makna.
6.Penggunaan enjambemen yang baik untuk menyelaraskan plot, sehingga bangunan tiap-tiap larik tak terkesan berdiri sendiri.
7.Peletakan interpolasi (penyisipan kata pada kalimat puisi) di gugusan yang tepat untuk membantu memperjelas makna.
8.Puisi merambah kepekaan, puisi mendulang sensitivitas, dan dengan itu penyair wajib memiliki feeling yang kuat terhadap objek dalam tulisannya.
9.Penyair yang mengerti penggunaan sistim kode akan membantunya memperkaya pemaknaan puisi. Kode tersebut sbb; 1. Kode teka-teki (the hermeneutik code), 2. Kode konotatif (the code of semes or signifiers), 3. Kode simbolis (the symbolic code), 4. Kode aksian (the proairetic code), dan 5. Kode budaya (the cultural of reference code).
10.Intention (Amanat yang hendak disampaikan). Menulis puisi tanpa maksud tak akan berarti, tak kan sampai ke jiwa pembaca, tak kan berguna. Puisi adalah bahasa jiwa, hanya jiwa yang mampu mengerti diksi-diksi puisi. Maka jika menulis puisi tanpa dijiwai, maka puisi pun kerontang, kering penjiwaan.
Kiranya begitu menurutku, tak lebih, lain tidak. Dan, tak jua sebagai referensi yang absolut bagi pembaca, beberapa point di atas mungkin terlalu subjektif. Tapi kira kau benar, ambilah sebagai sumber***
 Puisi Kan Berkata
Memahami puisi seperti memahami ragam jiwa, kepekaan rasa yang terhembus berbulir menjadi kata dan makna serta kebebasan yang pekat dari dasar jiwa. Ia ‘liar’, karena sejak lahir ia memiliki kemerdekaan rasa dan bebas menentukan dirinya kemana saja, begitu buas. Terlepas dari pengkataan dan pemaknaan yang dikandung puisi, kata yang disebut puisi inipun punya makna dasar. Dasar yang menjadi pijakan saat menggores tinta hingga membentuk diksi methafor-methafor yang seringkali membuat penyair bergidik trance. Apa itu puisi? Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia termuat pengertian; Ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait. Meskipun terkesan begitu terikat oleh aturan baku, sebetulnya puisi tak akan membiarkan dirinya dikukung oleh norma. Ia terbebas oleh aturan rima yang basi, puisi tak akan menerima begitu saja atas isu status quo yang beredar seputar dirinya. Seorang yang dikenal sebagai presiden penyair, Sutardji Calzoum Bachri, dengan enteng mengatakan “saat kau berniat menulis puisi, apapaun itu bentuknya, maka itulah puisi”. Kata-kata Sutardji seperti membius diri untuk berpikir lebih dalam, seperti apa puisi? Apakah yang disebut puisi. Dan jika puisi mendengar kata Sutardji, pastilah ia akan mengangguk seraya berkata, “aku ingin seperti itu, …bebas layaknya manusia. Bahkan manusia pun tak suka dirinya diatur.”
Bangunan Puisi
Menurut Husserl (Sumiyadi, 2005:25) Pengkajian Puisi. Bahwa puisi dibentuk oleh lapis-lapis norma sebagai berikut: 1. Lapis bunyi (sound stratum). 2. Lapis makna (units of meaning). 3. Lapis objek yang dikemukakan: dunia imajinasi pengarang, pelaku, latar, dan suasana. 4. Lapis dunia tersirat. 5. Lapis kualitas metafisika.
Mnguji Besar Kepekaan
Celotehan yang tak bertanggung jawab mengatakan, “seseorang yang cenderung penyendiri, tak banyak omong, akan memiliki kepekaan besar. Ia akan menuangkan ‘omongannya’ lewat tulisan.” Jelas tak tentu begitu, maka jawabannya, iya dan tidak. Sebesar apa kepekaan seseorang terhadap lingkungan sekeliling, masih tergantung pada tiap-tiap personal. Tantangan besar seorang penulis puisi atau penyair ialah sedalam saat ia memaknai dirinya secara fisik maupun non fisik. Sudut fisik ialah apa yang diindra oleh sekujur tubuh bisa dijabarkan secara nyata dengan puisi; meraba sesuatu, melihat sesuatu, melakukan sesuatu, etc. umpama; dasar merengak die kupelasa kan bantal guling
Apa yang tak terlihat? salah satunya rasa cinta. Semua orang tak akan menghakimi pihak lain setelah ia mengatakan kata cinta, meskipun pada cinta bukanlah simbol yang terindra. Maka di kalangan anak muda, cinta selalu menjadi menara inspirasi saat merangkai diksi puisi kepada yang terkasih. Rasa cinta, sedih, bahagia, putus asa, dsb merupakan perwakilan dari metafisik. cinta… rasa yang begitu menyiksa seperti memelin usus yang terbungkus okh biarkan aku menikmatinya di dalamnya terbujur sebilah pragmen terindah
Mencincang Daging Puisi Kata ‘mencincang’ dalam kritik sastra umpama pejabat yang terjebak selingkuh dan masuk ruang sidang dengan seribu satu introgasi. Namun dalam puisi dimaknai sebagai komposisi bumbu-bumbu yang dikandungnya. Dalam memahami isi puisi bisa dilakukan dari berbagai metode pengkajian, antara lain; Model pengkajian romantik, model pengkajian fenomenologis, model pengkajian stilistik, dan model pengkajian semiotik. Seribu satu, atau sekalipun sejuta penyair akan memiliki seribu atau sejuta presepsi saat mencincang puisi berikut;
(Sutardji, 1981 : 98) Amuk Kapak.
KALIAN
pun 1976 Tak peduli ocehan semua. Puisilah yang memplot dirinya sendiri, namun akan patuh dan jinak saat terdepenisikan oleh imajinasi pemiliknya, ‘pawangnya’ sendiri. Tak semua puisi dalam kondisi linglung, kadangkala ia tak menarik diri dari presepsi setiap pembaca, apalagi di era kini. Dalam perkembangannya yang dibiarkan meloncat sana sini, terdapat banyak jenis puisi. Ada sebagian penyair lebih menekankan pada makna, adapula sebagian penyair yang mempermainkan letak kata, seolah puisi dibebaskan menyesuaikan diri dengan wadah yang dihuninya. Suara Puisi
“bacalah perlahan meski digumam, rasakan dari kedalaman jiwa, lagukan di kalbumu, hayati keindahan yang dikandung anggukkan kepala…pelan saja”
Secara teoritis, bunyi dalam puisi dibentuk oleh beberapa unsur, yakni; rima (pengulangan bunyi), anomatope (tiruan bunyi), eufoni (rangkaian bunyi yang harmonis dan enak didengar), kakofoni (rangkaian bunyi yang tak enak di dengar dan tak harmonis), aliterasi (perulangan bunyi konsonan), asonasi (perulangan bunyi vokal), dan yang terakhir variasi bunyi lain yang dibentuk penulis sebagai gaya pengucapannya sendiri. Puisi akan mengalun lembut dari kedua belah bibir, ia berirama namun tak terikat dengan not-not balok laik musik. Interpretasi puisi tergantung oleh pribadi yang membawakannya, ia sebagaimana terpahami. Puisi bisa dinyanyikan, diteriakkan atau diteriaki, digumami, dan puisi kadang tak menolak saat disertakan musik yang menadainya. Ia bahkan akan menjelma menjadi bunga saat alunan nada lembut mengikuti jejaknya***
 EVOLOESI akoe di kata djoea koe di makna makna di goegoe rindoe rindoe dak akar djoea kepala dak dengkoelmoe di paloeng dak kanan djoea parman parman di kedai dak kopi djoea tapa djoea semedi dak pisang djoea goreng 2007***
-------------------------------------o0o------------------------------------- AKOE DAK TEMOEKAN HITAM TINTA DI HITAM KOPI Senin itoe poetih Akoe dak toelis joea setjarik Di laloe raboe noen hitam Pertalian tali pikir dan tali tinta ngikat Akoe terpaksa lah meraba pikir dan di hitam itoe koelepas sampoel mati joega hitam Kejoet, akoe Kalatika tinta hitam ternjata mentjair di kopi Seperti sampoel poetih dan soesoe poetih Akoe dak temoekan tinta di hitam kopi Koedjoega tjoba bali meraba sampoel poetih di laoet soesoe poetih jang djadi asin jang poetih Tinta hitam djadi gelap Gelap dan hitam saling tjari di kopi Kedoeanja dak pernah bertemoe di doenia gelaskoe Karena poetih jang menemoekan hitam Tapi bidji matakoe temoekan Semoeanja setelah berkontraksi Karena di bidji matakoe Ada hitam dan poetih 2007***
-------------------------------------o0o-------------------------------------
DANG dang gendang genderang dang dang doeng doeng doeng genderang doeng doeng genderang dang dang doeng dang dang doeng genderang dang gendang doeng dang dang dang doeng dang dang dang doeng doeng dang dang dang doeng dang dang dang 2007***
-------------------------------------o0o-------------------------------------
ALAM MALAM dalam pedjam, tjakram malam seram menikam kelam, hitam menjoelam salam alam. senjoem boengkam khatam tjengkram, lebam terbenam. makam diam, haroem koentoem sedapmalam mentjekam tadjam. pendoeloem djam memindjam idiom awam; bohlam padam, ranoem koepoekoepoemalam tjioem mesoem alim imam. ilham gurindam menerkam, redam alboem film malam djahanam. 2007***
-------------------------------------o0o-------------------------------------
AIR patah air ranting matakoe, djarikoe dipertjik air, dinding air teroendjam soekmakoe, air segala air, penjoeroe moekamoe air, moekakoe air pedih deritamoe mentjair deras deroekan batinmoe jang sesak air, kemaraoe jiwamoe kering air memoekaoe, goenoeng sesoember air regoek airMoe dak patah ranting air rantingkoe patah. 2007*** Riuh Melayu Oleh: Subrata Kampit
gelayut riuh decak gagah rumah rumah panggung meretas pintas bujang dan dayang membumi dalam dayuan pesona mahakarya mari berserikat raih hakikat hentakkan cak ding ding detak penari menyeret lengkingan akordion dalam rio campo penghulu tua bepantun tanjong de iler, magai de hulu burongla punai datang berandun urang belitong jan becelatu lebela baik kite bepantun gempita gendang rampak betalu, menyambut ulu pantun. dendangkan irama pekat melayu. Bandung, September 2005*** Itulah Puisiku By. Subrata Kampit gigitan lapar hipnotis jiwa mencari sabana bahasa, berjuta ranting kosakata, hingga kumamah rizki-rizki kalimat lesapkan nafkah kata, alirkan pada fase-fase lambung dengan getah simbolik pankreas, mengoyaknya, menjejak, memakna. jantungku memompa keras metafora darah menghidupkan nadi-nadi diksi walau payah yang tersisa menjadi sampah sarat frasa itulah puisiku apresiasi sahaja di senja renta dan kantuk malam Bandung, 29/SEPT/2005***
Catatan:
Aku mencintai puisi, aku membuat puisi. tapi bagaimana caranya? maka pusi kupelajari. seperti membuat kue, puisi juga terdiri dari komposisi dan langkah-langkah pembuatannya. untuk itu, dengan perenungan, kuciptakan sebuah sajak: Itulah Puisiku. sebagai titik pijak, ketika aku mulai, dan terus memulai akan membuat puisi.***
Emoh-LAH By. Subrata Kampit
Pada sub-bab anak rantau, debat kusir menyeret Pengkutuban kata Mahasiswa, antara maha DAN siswa. “Apa itu, Kok maha!?” semprotnya. Aku masygul MATI-KUTU. ‘Manusia Handal Sistem Wawasan’ itu versinya. JAUH-JAUH tunggangi KAPAL brenang masih tulalit, jadi apa kau TELAH buat!? Murid, siswa, juga mahasiswa dibubur sama bule jadi student, toh kompeten. Tudingnya mentah. Jaman sekarang, Mahasiswa kok masih ngembek! Bilangnya intelektual kelas Vi-Ai-Pi, moncongnya industrialisasi, yang lain ngomong agent of social change. Sulit cerna, sambungnya; teknisi ngasih makan busi. AKUNTAN Tabelkan ‘uang palsu’. Cobalah lihat orang hukum, dijejali keluarganya dengan statue. “aku sendiri,” batinku “makan ‘istriku kelak’ tak lain TUMIS puisi. Kalaupun guru, jangan omong, jatahnya dikebiri, tengoklah Oemar Bakri.” “Entah… jaman mungkin berubah, kali lain AKUNTAN, teknisi juga orang HUKUM DAN GURU punya variasi MENU; busi & statue dicapcai. Kalo ‘uang palsu’, guru tak punya ‘lorong tikus’, biar kuulangi, sudah dikebiri, birokrasi punya paten.” Selorohnya mentok sampai disitu. Dan aku sendiri, kataku. tetaplah numis puisi, mungkin sesekali ‘istriku kelak’ nyomot sajak siap SANTAP. Tapi KATA Nabi ‘utlubul ilmi walau bisshîn’, itu pokok KAMI.
19 Jan 2006. (00.11)***
Catatan: - akh... puisi ini lahir karena desakan tampil, "tapi tema apa yang akan kubawakan?" pikirku, kubicara dengan diri sendiri. waktu itu, di asrama putra mahasiswa Belitong akan ada suatu event yang juga dihadiri Bupati. maka kawan-kawan memintaku tampil, sebagai pengisi acara. aku terdesak untuk membuat puisi-yang-pelajar, atau puisi-yang-sangat-mahasiswa. maka Emoh-LAH lahir.
- ide puisi ini sebetulnya hasil dari obrolan dengan teman saat di Belitong. seraya bertanya, "Apa sih kepanjangan MAHASISWA?" tanyanya, aku tersudut***
Indo Sadja (Kepada peranakan Indo, untuknya kubunuh rasa cinta) By. Subrata Kampit
Koekoetoek Manis tjampoeran Oekh, boeanglah moekamoe ke selokan parkir kita Parkir sastra djaman Djaman apa katamoe! … poeh!!! Doeloe, empoemoe Terdjal hatinja … hoeh!!! Okh, Annelies di boekoe jang mati Kaoe, di kertas jang koegendong dan koereka kata-kata Penoelis toea ringkih mati Sajang ke seriboe kalinja … oehoek!!! Tram pram tam tam Beledoe di dinding matamoe Skak mat! Kelopak matamoe teriak … glek!!! 2007***
Catatan:
puisi ini terlahir dari tiga situasi yang tak sama dalam waktu, tapi seiya dalam dada; - Bali - Novel Pramoedya Ananta Toer - Si jelita peranakan Indo***
 | kawan! apa katamu? | |
 |
mymok wrote on Oct 3, '08 Asyik Ta, berani dong kirim ke Kompas, Republika, dan majalah sastra Horison. Maaf belum bisa diadd, soalnya kode addnya belum muncul. Nanti begitu muncul akan saya add. Aku punya rumah yang lain, mampir di http://cangra.multiply.com |
 | halo salam kenal Makasih ya atas kunjungannya ^^ Blog yang bagus :) |
| |